aku berbicara denganmu lewat telepon yang diputuskan
kangen menjadi sangat sunyi; kita menjelma kota-kota tanpa bahasa
“aku merindukanmu. Datanglah dengan kehangatan
malam-malam yang pernah kita sketsakan!”
pagi-pagi mengaduh
mengikuti irama ruang tamu yang bergerak keluar
aku menunggumu dari pintu ke pintu
sambil terus saja membuka koran-koran yang menyuguhkan
masakan kesukaanku
sebelum jalan raya memperkenalkan pesta dan
sejarah kota-kota
yang akhirnya memasuki lemari dan rak pakaianmu
ketika cinta kutulis kembali, aku telah
membeku dalam asbak rokok
aku tambah sulit mengenalimu --- apalagi menandai bunga yang kutanam
di tanah lembut sudut bibirmu
malam-malam membentuk kapal-kapal di tengah laut
bergerak dengan nafas satu-satu
tak pernah sampai hingga dermaga runtuh oleh
keterpencilan kita
“aku inginkan perjalanan sesungguhnya!”
Jakarta, 19 Nopember 1996
Minggu, 07 Desember 2008
Biografi Perjalanan
Diposting oleh ADMIN di 10.48 0 komentar
KATEGORI: Puisi
Ledakan Kota-kota
kota tiba-tiba meledak dalam arlojimu
mengirim kebingungan
sebagai penyair, aku pun mengutip sajak-sajakmu
tanpa sempat menyesalkan banyak hal
atau melukis kota-kota dengan semangat air mata
syukur, aku tak sempat mencatat cerita demi cerita
dari republik terluka
hingga tak ada yang perlu ditunda
tidak ada yang harus terluka
kota yang meledak adalah kehangatan sejarah
melingkar pada musim-musim sunyi
aku menjadi sangat menikmati setiap detak
jantung air mata
juga seluruh suara-suara yang meluncur dari
kedalaman persentuhan kita
tuhan membalut semua cerita itu
dengan kembang-kembang di bibirmu
yang senantiasa kubaca dalam kebugaran cinta.
Jakarta, Nopember 1996
Diposting oleh ADMIN di 10.47 0 komentar
KATEGORI: Puisi
Adakah Kau Seperti Ibuku
tiba-tiba saja kau menjadi ibu yang setiap saat menjagaku
tidur, memperjelas mimpi-mimpiku
dan bunga di kelopak bibirmu mengembang bagai senja yang mengembangkan bulan terindah bagi malam
tapi adakah besok tetap menjadi hari-hari yang lembut
sebagaimana ibu senantiasa menjagaku, mengkuatirkanku bila
terlambat pulang, dan menina bobokan bila aku lelah
adakah sebuah rumah di dalam hatimu yang akan membuatku
selalu tentram, sebagaimana ibu menyambutku dengan hangat
setiap bangun pagi atau pulang dari rantau
adakah sebuah laut di kelopak matamu yang bening
selalu terharu terhadap kesulitan dan kesusahanku
adakah kau seperti ibuku, yang selalu saja gelisah terhadap
hari-hariku
karena cuaca begitu saja berubah, dan waktu bagai gergaji
tiap saat siap memotong tiang-tiang rumah kita.
Batang, 25 Juli 1997.
Diposting oleh ADMIN di 10.46 1 komentar
KATEGORI: Puisi
Prosa Kasmaran
aku telah siap menjadi arloji bagimu yang siap mengingatkan
jam kerja dan waktu pulang kerumah, katamu. Kau pun menyandarkan
hidupmu satu-satunya kepadaku dan aku membalutnya dengan kangen
dan keterharuan yang hebat. Malam, 19 Juli, menuliskan semua itu
pada dingin daun-daun dan riuh jalan yang kita tempuh untuk
membicarakan sebuah sejarah yang panjang: Saat semua suara seperti
senyap menampung bisikan-bisikan halus yang keluar dari pembicaraan kita
aku telah siap menjadi penyejuk di rumah kita, seperti angin dan embun yang selalu melahirkan pagi, begitu katamu.
Jakarta, 15 Agustus 1997.
Diposting oleh ADMIN di 10.45 0 komentar
KATEGORI: Puisi
Kosong
kadang kita harus selalu ingat, jalan tidak seperti diperkirakan
maka bersiaplah untuk bersedih, untuk menerima nasib yang dingin
dan segala keinginan membusuk dalam coretan di dinding
begitulah yang kucoba pahami kini: Sebuah kota tiba-tiba saja
meledak dalam genggaman
aku ingin bersedih, sebagaimana juga engkau mungkin,
senantiasa mengharapkan bukit-bukit yang meninggi, bulan yang perak
dan diatasnya kita menari
tarianku kini kosong, tidak ada pentas maupun ruang
dimana harus menumpahkan segala gelinjang keinginan
buat melukiskan sebuah rumah yang manis
sebagaimana pernah kita cita-citakan: Ada sebuah kolam
dan sejumlah anak-anak bermain dengan girangnya
di tepinya kita mencatat waktu sambil tersenyum
tapi selalu saja aku terlempar pada jurang kemarau
hingga membuatku ngeri mengajakmu pergi: Sudah siapkah kau pahami
musim yang datang tiba-tiba seperti sekawanan burung dengan ganas
mematuk hari-hari kita?
Jakarta, 15 Agustus 1997
Diposting oleh ADMIN di 10.40 0 komentar
KATEGORI: Puisi
Sajak Pagi Hari
kalau tiba-tiba nanti kita harus menangis, aku ingin
kau memperdengarkan sebuah tangis yang manis
sehingga rumah kita bukanlah kuburan atau malam yang gelap
tetapi kenyataan yang menggairahkan
seandainya nanti kita harus bertengkar, aku ingin
kita menciptakan pertengkaran yang lembut
sehingga rumah kita bukan kota yang berisik atau bau penggusuran
tetapi hidup yang menentramkan
seandainya nanti kita harus saling diam
karena banyaknya hal yang tak bisa dicapai
aku ingin kita selalu ingat Tuhan.
Jakarta, 15 Agustus 1997.
Diposting oleh ADMIN di 10.39 0 komentar
KATEGORI: Puisi
Membaca Wajah Ibu
disitulah bintang itu, terselip dalam kelopak mata
tetap cerah, tetap indah
dan aku pun larut dalam sinarnya
disitulah laut, mengalirkan hawa dingin
bagi setiap perjalanan
tetap teduh, tetap biru
membuatku selalu kangen dan terpana
disitulah sumur, yang tak pernah lelah
memberi
aku adalah gayung, yang masih tetap
menimbanya
Jakarta, 6 Januari 1998
Diposting oleh ADMIN di 10.37 0 komentar
KATEGORI: Puisi